Sugarcane streak mosaic virus (SCSMV), now assigned to the genus Poacevirus of the family Potyviridae, was reported for the first time in 1932 in Louisiana and was believed to be strain F of sugarcane mosaic virus (SCMV) for more than six decades. SCMV-F was renamed SCSMV in 1998 after partial sequencing of its genome and phylogenetic investigations. Following the development of specific molecular diagnostic methods in the 2000s, SCSMV was recurrently found in sugarcane exhibiting streak mosaic symptoms in numerous Asian countries but not in the Western hemisphere or in Africa. In this review, we give an overview of the current knowledge on this disease and the progression in research on SCSMV. This includes symptoms, geographical distribution and incidence, diagnosis and genetic diversity of the virus, epidemiology, and control. Finally, we highlight future challenges, as sugarcane streak mosaic has recently been found in Africa, where this disease represents a new threat to sugarcane production.
Variation in the concentration of virus in different parts of the plant has implications for virus-indexing programs. To allow more reliable detection of S
Hama uret Lepidiota stigma merupakan hama utama di perkebunan tebu lahan kering bertekstur pasir. Untuk mengendalian uret, para pekebun tebu umumnya bertumpu pada penggunaan insektisida granuler, namun tingkat efikasinya cenderung masih rendah. Penanaman varietas yang tahan atau toleran merupakan alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan dan dipadukan dengan cara pengendalian lainnya. Informasi respon varietas tebu komersial terhadap L. stigma masih sangat terbatas dan pemuliaan tebu yang secara khusus ditujukan untuk ketahanan terhadap uret belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon varietas tebu komersial yaitu BL, PS 862, PS 881, KK dan PS 091 terhadap hama uret L. stigma. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Pasuruan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari lima tanaman tebu per varietas yang masing-masing ditanam dalam pot berdiameter ± 30 cm. Ketika tebu berumur dua bulan tiga ekor larva L. stigma instar ke-2 diinfestasikan pada setiap pot. Dua minggu kemudian dilakukan pengamatan awal dengan mengukur tinggi tanaman dan menilai gejala kerusakan tanaman. Penilaian kerusakan tanaman baik di atas maupun di bawah permukaan tanah dilakukan dengan sistem rating. Pengamatan dilakukan secara desktruktif dengan cara mengambil satu pot untuk setiap unit percobaan. Setelah pengamatan awal dilakukan aplikasi insektisida diazinon untuk membunuh uret dan membiarkan tanaman tumbuh dengan dipelihara sesuai standar. Pengamatan tinggi tanaman dan gejala kerusakan tananaman dilakukan kembali pada 1, 2, 3 dan 4 minggu setelah aplikasi insektisida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima varietas yang diuji memberikan respon yang berbeda terhadap serangan hama uret L. stigma. Varietas BL dan KK menunjukkan respon lebih tahan dibandingkan varietas lain yang diuji. Varietas PS 862 dan PS 881 menunjukkan tingkat ketahanan sedang dan varietas PS 091 menunjukkan respon rentan.