Penerapan triple helix yang ideal di daerah melalui kolaborasi antara Pusat Riset, Pemda dan Pelaku usaha (UMKM) telah dijabarkan oleh pengarang. Suatu perjalanan yang panjang dalam menggali keberhasilan dan kegagalan dari hasil kerjasama yang telah dibangun selama puluhan tahun dalam upaya penerapan triple helix dari sudut pemanfaatan teknologi berdasarkan hasil transfer iptek untuk menumbuhkembangkan UMKM di daerah. Permasalahan dan penyelesaian dari kolaborasi triple helix dilaksanakan dengan pendekatan Engaged Scholarship. Pengarang juga menjelaskan bagaimana menyelesaikan segala permasalahan hasil kolaborasi triple helix dalam upaya meningkatkan adopsi teknologi pada implementasi hasil pengembangan rekayasa peralatan dan proses pangan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kolaborasi triple helix yang ideal kemudian dipaparkan melalui tahapan pola kolaborasi, strategi memperkuat kolaborasi, mekanisme transfer pengetahuan dalam kolaborasi serta upaya penguatan kolaborasi triple helix yang ideal.
Usaha kopi di Desa Cupunagara sedang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Subang. Telah banyak intervensi dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk meningkatkan daya saing melalui perluasan pasar. Namun baru satu kopi yang dapat menembus pasar ekspor. Ada faktor-faktor yang menjadi pembeda antar UKM kopi dilihat dari rantai nilai inovasi, baik dalam penentuan ide inovasi, proses konversi ide dan penyebaran ide. Bagaimana mendorong peningkatan inovasi iptek pada usaha kopi di Subang? Apa yang dapat dilakukan Pemerintah daerah dalam mendorong dan pengembangkan usaha kopi yang berdayasaing?